Koperasi Simpan pinjam dalam Islam bagaimana hukumnya? Notifikasi email di Hp saya tiba2 saja menarik perhatian, sebuah pertanyaan lugas yang mengingatkan saya pada sebuah diskusi kecil tentang aspek religi dari gerakan koperasi. Pertanyaan yang sederhana tetapi mempunyai konsekuensi besar dalam kehidupan Ummat seperti ini seriung saya dapatkan dalam berntuk berbeda misalnya seperti ketika saya ditanya peserta pelatihan saya dengan pertanyaan-pertanyaan serupa ” apakah Koperasi Riba, jika ya, berarti koperasi haram dong dalam konteks agama Islam?”. Tentu saya tidak mempunyai kapasitas yang cukup untuk menjawab pertanyaan berat ini dari aspek agama karena keterbatasan ilmu saya, tetapi saya percaya bahwa saya mempunyai kapabilitas untuk menyawabnya dari aspek koperasi. Sebelum saya melanjutkan pembahasan saya saya menyampaikan dengan hormat bahwa tulisan dalam blog koperasi dot net ini saya tujukan untuk saudara saya kaum Musilmin, saya sadar betul bahwa banyak temen2 gerakan koperasi yang mempunyai keyakinan berbeda.

Anda mungkin saja sudah melihat banyak gambar yang disebar memalui ini melalui facebook tentang koperasi sama dengan riba. Dengan tegas pembuat gambar menempatkan koperasi sebagai bagian dari praktek riba, saya mencoba menggali informasi “koperasi” yang dimaksud riba bagian mananya, jawaban yang saya peroleh tidak memuaskan, mereka yang ramai2 ikut menyebar status ini tidak paham bagian mana dari koperasi yang riba, mereka menyebut mungkin SHU nya atau praktek KSPnya. apakah benar demikian? Untuk menjawab pertanyaan ini saya menggunakan beberapa referensi tentang pengertian Riba. Rujukan paling bisa dipertanggungjawabkan menurut saya adalah fatwa MUI tentang Riba anda bisa melihatnya disini. Secara detail MUI menyebut Riba dalam bentuk Bunga adalah Haram.
apakah koperasi Haram

Pengertian Riba Oleh MUI

MUI mendefinisikan Bunga adalah tambahan yang di kenakan dalam transaksi pinjaman uang yang di hitung dari pokok pinjaman tanpa mempertimbangkan kemanfaatanya yang berdasarkan tempo, dihitung secara pasti dimuka dan berdasarkan persentase.

Sedangkan Riba menurut MUI adalah tambahan tanpa imbalan yang terjadi karena penangguhan dalam pembayaran yang dijanjikan sebelumnya.

Sebagaian besar publik akan lansung menunjuk bahwa simpan pinjam dalam Islam adalah bentuk nyata dari praktek riba. Dalam sebuah tulisan blog seorang ustad yang saya kenal semasa kuliah dulu juga menyebut dengan jelas bahwa koperasi simpan pinjam dalam Islam adalah riba, benarkah memang demikian adanya? saya sebenernya sudah menulis cukup panjang di komentar blog beliau lebih dari setahun lalu tetapi sampai saat ini tidak di terbitkan, maka saya merasa perlu menulis posting ini untuk memberikan sudut pandang lain dari aktivis koperasi.

Memahami Ide Koperasi Genuine

Memahami koperasi sebenernya sangat sederhana, kita ambil contoh usaha minimarket. Modal membuat minimarket kecil misalnya 200 juta, jika pengusaha perseorangan maka seluruh modal aakn dikeluarkan oleh pemilik usaha dan hasil usaha tentu juga akan dimiliki oleh si pengusaha. Bagaimana jika ada yang ingin membuat minimarket tetapi hanya punya modal 10 juta? maka dia bisa mengumpulkan 20 orang yang mempunyai keinginan serupa untuk membuat minimarket maka jadilah 20 orang membuat minimarket bersama, yang dikelola bersama dan hasilnya akan dibagi bersama sesuai dengan “pekerjaan” yang mereka lakukan untuk koperasi.

Sampai disini sebenarnya sudah jelas bahwa perusahaan perseorangan mempunyai fokus pengembangan kepada badan usahanya sedangkan koperasi fokus kepada peningkatan kemanfaatan ekonomi untuk anggotanya. Dalam konteks contoh koperasi minimarket diatas kemanfaatan yang dimaksud adalah 20 orang yang bergabung menjadi anggota koperasi akan mendapatkan harga lebih murah dibanding jika dia tidak bergabung dengan anggota koperasi. SHU bukan tujuan utama dari sebuah operasional koperasi yang menjadi tolak ukur keberhasilan koperasi adalah nilai tambah ekonomi dan sosial anggotanya. Poin ini bagus untuk diperhatikan. Sekarang kita akan meninjau koperasi Simpan pinjam.

Pendapat Tentang Riba Dalam Koperasi

Bapak Koperasi Indonesia Moh Hatta dalam bukunya yang berjudul “Beberapa Fasal Ekonomi” menyebutkan bahwa ulama Indonesia mayoritas mengharamkan riba, tetapi ada pula ulama yang menyebutkan bahwa memungut renten itu tidak baik tetapi jika kemajuan masyarakat menghendaki adanya renten itu di perbolehkan juga. Pendapat ini mengacu kepada efek baik dan buruk dari Riba.

Buya Hamka dalam tafsir “Al-Ahar” tegas menyebutkan bahwa renten adalah tidak boleh tetapi sangat dianjurkan adanya Qardhan Hasanan yaitu ganti rugi yang layak untuk pemberi kredit. Ganti rugi yang dimaksud disini adalah ganti rugi atas turunya nilai uang karena inflasi.

Inflasi akan menyebabkan nilai uang turun dan jika pinjaman selama beberapa tahun dibayarkan dalam jumlah uang yang sama maka pemberi pinjaman akan rugi karena nilai uangnya sudah turun di sebabkan inflasi.

 

Praktek Koperasi Simpan Pinjam

Praktek berkoperasi di Indonesia memang masih belum ideal masih sangat banyak para pelaku kejahatan penipuan yang menggunakan nama koperasi sebagai modusnya. Sebut saja yang paling heboh adalah kasus Koperasi Langit Biru ataupun Koperasi Cipaganti. Di sisi lain “perusahaan keluarga” ataupun usaha sekelompok orang tidak jarang berbadan hukum koperasi tetapi tetap berpraktek ala kapitalis. Yang paling sering dilakukan adalah membuat anggota menjadi esklusif tetapi mengumpulkan sebanyak2nya nasabah dan calon anggota, hasilnya keuntungan besar untuk segelintir orang yang menjadi anggota koperasi. Kondisi ini memang benar terjadi tetapi sekali lagi apakah kemudian Koperasi layak di identikan dengan riba atau bahkan kejahatan?

Keberadaan koperasi simpan pinjam pada prinsipnya adalah untuk memperkuat fundamen finansial anggota, bukan untuk tujuan mendapatkan keuntungan dari anggota. Beberapa orang bertanya kepada saya, jika demikian bagaimana koperasi bisa berkembang? saya selalu menekankankan bahwa perkembangan koperasi di ukur dari perkembangan anggotanya bukan dari organisasinya. Saya akan buat ilustrasi sebagai berikut.

Sebuah koperasi simpan pinjam di dirikan oleh sekelompok orang yang memiliki kepentingan sama terhadap kebutuhan perumahan. Anggota koperasi sadar jika mereka menggunakan modal sendiri maka akan sulit untuk anggotanya mendapatkan rumah maka kemudian mereka bergabung mendirikan koperasi. Anggota koperasi disini ada 2 jenis pertama adalah mereka yang membutuhkan rumah kedua adalah anggota yang ingin mendapatkan keuntungan dari bisnis properti.

Modal dari koperasi 60% lebih harus  dari anggota sisanya boleh dari modal penyertaan. Ketika beberapa orang membuat koperasi simpan pinjam perumahan maka akan mendapat beberapa keuntungan. Sebagai ilustrasi, harga tanah di daerah pinggiran jogja saat ni sekitar 1 juta/m jika membeli tanah yang lebih luas maka harga akan bisa turun menjadi 600 ribu/m. Nilai tambah ekonomo sudah didapat oleh anggota koperasi. Nilai tambah ekonomi kedua adalah biaya borongan permeter persegi bisa ditekan sangat besar. Jika mengunakan jasa developer maka bisa lebih dari 2 jt /m persegi bangunan jika kita urus sendiri saya mendapat harga yang fantastis hanya 700 ribu/m persegi bangunan. Nilai tambah ekonomi kedua.

Selanjutnya perhatikan cara memberikan pricing atau harga produk dalam koperasi. Dalam koperasi untuk menentukan harga produk harus melalui mekanisme kesepakatan anggota dalam RAT, bukan voting tetapi kesepakatan anggota. Dalam kasus koperasi simpan pinjam perumahan diatas anggota menyetujui berapa harga yang akan diberikan kepada anggota. Opsi pertama adalah anggota mendapatkan harga hpp atau dinaikan dibawah harga pasar dan menyesuaikan dengan inflasi serta perkembangan ekonomi. Jika sebelumnya harga beli tanah 600 ribu permeter ditambahn inflasi dan keuntungan bisa dinaikan menjadi 800 ribu/meter, begitu pula biaya pembangunan bisa dinaikan menjadi 900 ribu/meter. Bagian ini harus dicatat juga bahwa untuk menentukan harga produk anggota harus sepakat . Proses RAT bisa anda lihat di posting saya tentang RAT koperasi.

Kesepakatan harga di RAT inilah yang akan menjadi dasar transaksi simpan pinjam. Dalam koperasi anggota bukan hanya konsumen tetapi juga pemilik
. Dalam konteks profit anggota berhak menentukan apakah akan memberikan profit atas pinjaman atau simpananya atau tidak, kalau tidak maka anggota cukup mengembalikan hpp dari pinjamanya, Dalam hal ini tidak ada tambahan yang dikenakan atas pinjaman anggota.

Dalam contah diatas koperasi simpan pinjam diatas praktek koperasi perumahan adalah ketika anggota berniat membeli rumah seniali 300 juta dengan kpr maka dia akan mendapatkan harga dibawah harga pasar sesuai kesepakatan, kemudian jika anggota akan membayar secara angsuran selama 5 tahun maka harga setiap tahun disesuaikan dengan pertumbuhan ekonomi dan inflasi yang ditentukan oleh hpp.

Bagaimana jika terdapat shu yang muncul dari transaksi dengan anggota? maka shu tersebut akan dibagi juga sesuai dengan kesepakatan bersama anggota. cara pembagianya sudah saya tulis dalam posting cara menghitung SHU. SHU yang dikembalikan kepada anggota adalah shu hasil aktivitas anggota artinya kalaupun ada Sisa Usaha yang diberikan anggota maka itu akan dikembalikan lagi kepada anggtota. Sampai pada titik ini saya melihat bahwa jika koperasi benar2 menjalankan nilai dan prinsip koperasi dengan mengedepankan kepentingan anggota maka tidak akan muncul bunga atau unsur riba sama sekali. Jika anda melihat ada unsur bunga atau riba disini silahkan disampaikan kepada saya.

Lantas praktek KSP mana yang sering identik dengan riba dan bunga? adalah praktek KSP/USP dengan non anggota. Sejatinya praktek seperti ini adalah tindakan yang tidak tepat bahkan cenderung kapitalistik. Banyak sekumpulan orang yang secara esklusif menguasai keanggotaan dan kepenguruan koperasi untuk mendapatkan keuntungan sebesar2nya dari nasabah non anggota, maka sejatinya koeparsi semacam ini adalah kelompok kapitalis yang menggunakan badan hukum koperasi, mereka tidak bener2 menjalankan prinsip dan nilai koperasi.

Modus yang sering digunakan oleh koperasi tidak genuine adalah “menggantung” status nasabah selama mungkin menjadi calon anggota untuk mengeruk keuntungan sebesar2nya. Seharusnya ketika seorang nasabah secara aktif dalam kurun waktu tertentu maka mereka harus diangkat menjadi anggota. Dalam penjelasan UU.no25 Tahun 1992 disebutkan pada pasal 18 ayat (2) mengharuskan bahwa calon anggota yang telah membayar penuh simpanan pokok, maksimal 3 bulan setelahnya harus diangkat menjadi anggota.

Saya pribadi menyarankan aktivis koperasi simpan pinjam “kembali” kepada ide koperasi yang genuine, beberapa praktek yang bisa anda lakukan adalah sebagai berikut.

  1. Koperasi simpan pinjam lebih banyak berfokus kepada usaha produktif anggota dengan sistem bagi hasil
  2. Koperasi simpan pinjam bisa mengambil biaya administrasi yang ditujukan bukan untuk mengambil keuntungan tetapi betul2 membiayai operasional.
  3. Merunut pendapat Buya Hamka maka bisa saja koperasi mendapatkan ganti rugi yang layak karena turunnya nilai mata uang karena inflasi.
  4. Merubah mainset dasar bahwa koperasi adalah lembaga ekonomi anggota dengan semangat sosial, artinya fokus pengembangan adalah kepada peningkatan kapasitas ekonomi anggota bukan keuntungan lembaga koperasinya.
  5. Hendaknya unit simpan pinjam dimanfaatkan untuk memperkuat fundamental finansial anggota bukan mengajarkan anggota untuk konsumtif.

Kesimpulan Koperasi Simpan Pinjam Dalam Islam

Saya berkesimpulan selama koperasi fokus dengan kebutuhan anggota, berupaya meningkatkan kapasitas ekonomi anggota maka unsur Bunga dan Riba tidak akan muncul. Kekuatan utama koperasi adalah pada kumpulan orang. Dalam koperasi dikenal istilah self help, artinya menolong diri sendiri, koperasi tidak serta merta membuat anggotanya kaya tetapi koperasi memberikan jalan untuk itu. Praktek yang benar sesuai nila dan prinsip koperasi akan menghasilkan praktek yang jauh dari riba tetapi ketika koperasi hanya digunakan sebagai alat oleh sekelompok orang untuk memperkaya kelompoknya dengan mengambil keuntungan dari nasabah yang di pertahankan menjadi calon anggota melebih bawats waktu yang ditentukan maka sudah bisa dipastikan untuk riba akan mucul, praktek koperasi seperti ini tidak bisa disebut sebagai koperasi yang sesungguhnya. Saya akan senang jika ada tanggapan, ataupun masukan bahkan sanggahan untuk melengkapi posting saya tentang koperasi simpan pinjam dalam Islam