Hari Koperasi Indonesia 12 Juli 2016 mendapatkan catatan penting dari aktivis koperasi. Koperasi digadang2 menjadi soko guru perokonomian indonesia, artinya kontribusi koperais terhadap produk domsetik bruto seharusnya minimal seperti new zaeland yang mencapai 22% dari GDP tetapi faktanya jauh harapan dari kenyataan, kontribusi koperasi dalam PDB mencatat prestasi terburuk sejak Indonesia Merdeka. Saat ini kontribusi koperasi kita hanya 1,7 % dari Produk Domestik Bruto (PDB) kita, lebih buruk dibanding waktu Indonesia baru merdeka (kontribusinya 2,5%).

Koperasi di negara yang konon mempunyai lebih dari 33 juta anggota hanya mampu menyumbang kurang dari 2 % dari PDB, padahal kita punya kementrian khusus, punya dekopin yang di danai dari APBN. Tidak perlu jauh2 membandingkan ketidakmampuan koperasi berkiprah di kancah perekonomian nasional, negara tetangga kita vietnam menurut ica sudah mencatat pertumbuhan signifikan, koperasi di negeri yang belum lama terlepas dari perang berkepanjangan tersebut mampu mencatatkan 3 % kontribusi koperasi terhadap GDB nya.

Di belahan dunia lain, Afrika, koperasi bahkan sangat dominan, sebut saja kenya yang menyumbang hingga 45% dari keseluruhan GDP dan menguasai 70% pasar kopi negara tersebut. Angka ideal untuk bisa disebut sebagai soko guru perekonomian.

Indonesia bukanya tidak memiliki potensi, sangat besar bahkan. Kita hitung saja secara sederhana. Jika benar anggota koperasi Indonesia berjumlah 37.783.160 seperti yang dilansir oleh kemenkop kemudian kita hitung pengeluaran perkapita rata2 nasional 1 juta saja/bulan maka dalam 1 bulan ada potensi 3,7783 T/ bulan atau 45,396 T setahun jika ada 1 anggota keluarga yang menjadi simpatisan ekonomi koperasi maka akan terkumpul setidaknya 90,7 T setahun dari konsumsi saja, angka ini lebih dari 50% omzet ritel nasional. Yang harus dilakukan adalah memperbaiki proses produksi, distribusi dan penjualan produk ritel koperasi.

Koperasi Indonesia saat ini memang lebih di dominasi oleh koperasi simpan pinjam baik yang konvensional ataupun yang syariah padahal point penting dari gerakan ekonomi koperasi tidak hanya permodalan tetapi juga perbaikan kualitas produksi dan distribusi serta pemasaran, ketidak seimbangan pertumbuhan inilah yang membuat koperasi jalan di tempat. dari segi omzet koperasi konsumen jauh dibandingkan USP, koperasi Jogja terbaik dari kategori konsumen Kopma UGM baru menyentuh angka 20-an M omzetnya setahun.

Banyak pakar yang menyebutkan bahwa salah urus koperasi ini berawal dari regulasi yang cenderung neolib, jauh dari jati diri koperasi, saya sedniri berpendapat bahwa gerakan arus bawah yang dalam hal ini di dorong oleh pengusaha koperasi yang membaut jejaring kuat akan membantu memperpanjang nafas koperasi Indonesia.